Langsung ke konten utama

RENUNGAN MULTIKULTURALISME

RENUNGAN MULTIKULTURALISME
Oleh: Ahmad Suhendra

Kerberagaman merupakan hal yang niscaya bagi kehidupan manusia dimana pun berada. karena pada setiap “diri-kepala” individu seseorang dilatarbelakangi dengan bermacam-macam unsur yang membentu sistem kehidupan dirinya. Dan dari bermacam-macam unsur yang membentuknya itu pada individu masing-masing seseorng tentunya berbeda dengan individu yang lainnya.dari kondisi tersebut melahirkan suatu tatanan subsistem pandangan yang berbeda, yang akhirnya melahirkan sistem kebudayaan yang berbeda dan beragam. Tentunya tidak hanya dalam kontek kebudayaan, tetapi dalam beberapa wilayah, semisal agama, bahasa, etnis, suku, dan sebagainya. Dengan demikian keberagaman merupakan keniscayaan yang tidak dapat terelakkan dan tidak dapat dihindarkan.



Dalam beberapa dekade terakhir di Indonesia, banyak kasus yang bergesekan dengan perihal keberagaman dan terkait dengan HAM sebagai warga negara. Sebutsaja kasus FPI di Monumen Nasional (Monas) beberpa tahun lalu, yang begitu naif saya kira, sebagai orang yang beragama muslim, yang mempunyai kitab yang mengajarkan keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan semestinya perbuatan tersebut tidak muncul dalam permukaan. Semestinya orang yang beragama dan paham serta mengamalkan keberagamaannya paham dan mengerti akan arti sebuah keberagaman.

Dalam islam dan saya sebagai orang yang beragama islam sangat tidak setuju dengan apa yang dilakukan FPI dan kawan-kawan. Islam tidak mengajarkan kekerasan. Justru islam memberikan kebebasan beragam dalam ranah yang begitu toleran. Rasa intoleran yang dimunculkan sekelompok orang menimbulkan pertikaian dan konflik antar sesama warga negara bahkan antar sesama pemeluk agama.

Tidak hanya dalam ranah agama, tentunya, kajian multikulturalisme meliputi semua aspek perbedaan yang ada dan hadir dikehidupan kita. Kajian multikultural ini bagi saya sangat kompleks, tidak hanya terbatas pada budaya dan agama, tapi juga dalam kelas ekonomi, orientasi seksual, kaum difabel, dan lain-lain. semua aspek yang berbeda dengan orang atau komunitas yang dominan merupakan kajian multukulturalisme.
Secara historis, multikkulturalisme muncul di Kanada yang disebabkan banyaknya orang yang berimigran ke negara tersebut dengan berbagai ras, etnis, negara, bahkan agama. Multikkulturalisme di eropa lebih di tujukan kepada penyebaran Islam. Keberadaan imigran masyarakat muslim dari berbagai negara, semisal Maroko, Turki, dan Aljzair, di Eropa menimbulkan suatu kebudayaan yang baru di lingkungan masyarakat Eropa yang sekuler.

Perkembangan multikulturalisme di Eropa banyak juga yang menentang dan tidak sepakat. Banyak faktor yang menghambat berkembangnya multikulturalisme di Eropa, terutama adalah faktor politik. Adanya nation-state di Eropa merupakan hal yang menjadi tantangan mendasar bagi perkembangan multikulturalisme. Banyak kaum elit di Eropa yang menolak multikulturalisme, karena ditakutkan akan memusnahkan budaya mereka yang selama ini hidup.

Politik suatu negera begitu berperan aktif dalam perkembangan multikulturalisme di berbagai negara di Eropa. Tanpa terkecuali di Indonesia, terutama yang begitu mencolok pada masa orde baru, yang dianggap sebagai masa “pemberangusan Keberagaman”. Segala hal selalu dibatasi oleh negara, mulai dari berekspresi sampai masalah masalah keyakinan. Kelakuan tersebut hanya didasarkan kepentingan politik pemerintahan orde baru.

Selain itu semua, adanya globalisasi juga begitu mencekram perkembangan multikulturalisme, seandainya suatu budaya yang telah lama lahir dan dilestarikan oleh masyarakat seketika ‘hangus’ dengan sekejap. Dengan adanya kemajuan teknologi menimbulkan budaya konsumerisme dan materialisme.
Namaun itulah tantangan bagi yang menyuarakan multikulturalisme yang perlu dilihat dan dijadikan pertimbangan. Multikulturalisme tetap perlu diperjuangkan meski secara sosi-politik banyak yang tidak sepakat. Dengan multikultualisme kita dapat mengahargai adanya perbedaan yang ada disekitar kita. Mengakui dan menganggap semua perbedaan itu bukan menjadikan kita mengucilkannya, memearjinalkannya, dan mencuekkannya dalam kehdupan sosial kita.
Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIOGRAFI ULAMA: ULAMA YANG CENDEKIAWAN DARI GARUT

BIOGRAFI ULAMA
KH. ANWAR MUSADDAD, GARUT

Seorang ulama-intelektual yang berdedikasi untuk pengembangan lembaga ilmiah, namun tetap berdiri di atas tradisi pesantren. Keahliannya dalam Ilmu Perbandingan Agama tergolong langka di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) pada masanya.  

Lahir di Garut pada 3 April 1909, menempuh pendidikan di HIS (Hollandsche Indische School, setingkat SD pada zaman Belanda), MULO (setingkat SMP) Kristelijk di Garut, dan AMS (setingkat SMA) Kristelijk di Sukabumi. Setelah menamatkan pendidikan menengah di sekolah Katolik tersebut, ia belajar di Pesantren Darussalam Wanaraja, Garut selama dua tahun, kemudian pada 1930 melanjutkan studi ke Mekah dan belajar di Madrasah al-Falah selama sebelas tahun. 

Belajar Menjaga Amanah

Saat punya anak kita perlu banyak menyesuaikan diri. Kita harus pintar membagi waktu untuk buah hati. Yah, sebagai suami tak ada masalah meringankan beban istri. Hanya dengan membantu pekerjaan istri tidak akan menurunkan derajat seorang laki-laki.