Langsung ke konten utama

TAFSIR PENDIDIKAN

Al-Qur’an Membahas Pendidikan

Artinya:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.[1]
Dalam ayat di atas, Allah menerangkan kekuasaan-Nya yang sempurna dan pengetahuan-Nya terhadap segala kegaiban langit dan bumi. Semua itu hanya dimiliki Allah. Maka tiada seorang pun yang dapat melihat kegaiban kecuali jika Allah memperlihatkan sesuatu yang dikehendaki-Nya kepada seseorang.
Sedangkan, Sayyid Quthub menjadikan ayat ini sebagai pemaparan contoh sederhana dalam kehidupan manusia yang tidak dapat terjangkau oleh manusia, yakni kelahiran, padahal itu terjadi setiap saat. Mungkin manusia dapat melihat tahap pertumbuhan janin, tetapi dia tidak mengetahui bagaimana hal tersebut terjadi, karena rahasianya merupakan rahasia kehidupan.[2] Sesudah mencapai kesempurnaan, Allah mengeluarkan manusia itu dari rahim ibu, pada waktu itu dia tidak mengetahui sesuatu. Akan tetapi, sewaktu masih dalam rahim, Allah swt. menganugerahkan kesediaan-kesediaan (bakat) dan kemampuan pada diri manusia, seperti bakat berpikir, berbahagia, mengindra dan lain sebagainya. Setelah manusia itu lahir, dengan hidayah Allah segala bakat-bakat itu berkembang. Akalnya dapat memikirkan tentang kebaikan, kejahatan, kebenaran dan kesalahan, hak dan batal. Dan dengan bakat pendengaran dan penglihatan yang telah berkembang itu manusia mengenali dunia sekitanya dan mempertahankan hidupnya serta mengadakan hubungan sesama manusia. Dan dengan perantaraan akal dan indra itu pengalaman dari pengetahuan manusia dari hari ke hari semakin bertambah dan berkembang.
Ayat di atas menggunakan kata as-sama’ dengan bentuk tunggal dan menempatkannya sebelum kata al-abshar yang berbentuk jamak serta al-af’idah yang juga berbentuk jamak. Kata yang terakhir dipahami oleh banyak ulama dalam arti akal. Makna ini dapat diterima jika yang dimaksud dengannya adalah gabungan daya pikir dan daya kalbu, yang menjadikan seseorang terikat sehingga tidak terjerumus dalam kesalahan dan kedurhakaan. Dengan demikian tercakup dalam pengertiannya potensi meraih ilham dan percikan cahaya ilahi.
Didahulukannya kata pendengaran atas penglihatan, merupakan perurutan yang sungguh tepat, karena memang ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa indera pendengaran berfungsi mendahului indera penglihatan. Daya dan indra ini diperoleh manusia secara berangsur-angsur. Setiap kali tumbuh, bertambahlah daya pendengaran, penglihatan, dan akalnya hingga dewasa. Penganugerahan daya itu dimaksudkan agar dia dapat beribadah kepada Rabbnya dan dijadikan sarana ketaatan kepada Allah swt. Aspek lain, ayat di atas menunjuk kepada alat-alat pokok yang digunakan untuk meraih (ilmu) pengetahuan. Alat pokok pada objek yang bersifat material adalah mata dan telinga, sedang pada objek yang bersifat immaterial adalah akal dan hati.
Dipilihnya bentuk jamak untuk penglihatan dan hati, karena yang didengar selalu saja sama, baik oleh seorang maupun banyak orang dan dari arah mana pun datanganya suara. Ini bebeda dengan apa yang dilihat. Posisi tempat berpijak dan arah pandang melahirkan perbedaan. Demikian juga hasil kerja akal dan hati, hati manusia terkadang senang, satu waktu susah, benci dan sekali rindu, tingkat-tingkatnya berbeda-beda walau objek yang dibenci dan dirindui sama. Hasil penalaran akal pun demikian. Ia dapat berbeda, boleh jadi ada yang sangat jitu dan tepat, dan boleh jadi juga merupakan kesalahan fatal. Istilahnya, kepala sama berambut, tetapi pikiran berbeda-beda.
Dalam pandangan al-Qur’an ada wujud yang tidak tampak, sekalipun tajamnya penglihatan atau pikiran. Banyak hal yang tidak dapat terjangkau oleh indera, bahkan oleh akal manusia. Yang dapat menangkapnya hanyalah hati, melalui wahyu, ilham, dan keimanan. Dengan begitu al-Qur’an, di samping menuntun dan mengarahkan pendengaran dan penglihatan, juga memerintahkan agar mengasah akal, yakni daya pikir dan mengasuh pula daya kalbu.
Akal dalam arti daya pikir hanya mampu berfungsi dalam batas-batas tertentu. Ia tidak mampu menuntun manusia keluar jangkauan alam fisika ini. Bidang operasinya adalah bidang alam nyata, dan dalam bidang ini pun terkadang manusia teperdaya oleh kesimpulan-kesimpulan akal, sehingga hasil penalaran akal tidak merupakan jaminan bagi seluruh kebenaran. Alat-alat yang dianugerahkan Allah, yang telah disebutkan di atas, masih belum digunakan oleh umat Islam, bahkan para penuntut ilmu secara sempurna.
Kalimat la ta’lamuna syai`an dalam ayat di atas sebagai bukti bahwa manusia lahir tanpa sedikitpun pengetahuan. Manusia bagaikan kertas putih yang belum dibubuhi satu huruf pun. Pendapat ini benar jika yang dimaksud dengan pengetahuan adalah pengetahuan kasbiy, yakni yang diperoleh melalui upaya manusiawi. Tetapi ia meleset jika menafikan segala macam pengetahuan, karena manusia lahir membawa fitrah kesucian yang melekat pada dirinya sejak lahir, yakni fitrah yang menjadikannya mengetahui bahwa Allah Maha Esa.
Dengan demikian, aspek pendidikan sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia secara batiniah maupun lahiriah. Dengan pendidikan manusia akan menjadi makhluk yang melakukan perubahan di bumi. Untuk melangsungkan tugasnya sebagai khalifah di bumi manusia harus mengenyam pendidikan. Pendidikan sebagai penopang keberlangsungan manusia dalam beribadah.
Kalau ditelusuri dalam al-Qur’an, banyak sekali ayat yang berkaitan dengan pendidikan. Terdapat ayat menekankan pentingnya berpikir, meneliti, dan memahami realitas secara keseluruhan, dan sebagainya. Bahkan, ayat pertama diturunkan adalah ayat yang secara tekstual memerintahkan untuk membaca.
Membaca tentu terkait dengan belajar, dan belajar berkaitan dengan pendidikan. Membaca justru menjadi inti dari pendidikan. Lewat membaca akan diperoleh informasi dan kekayaan khazanah yang tidak terbatas. Jika dianalogikan secara mendalam, ilmu tidak akan diperoleh secara maksimal kecuali melalui jalur pendidikan.
Pendidikan memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan. Makna penting pendidikan ini telah menjadi kesepakatan luas dari setiap elemen masyarakat. Lewat pendidikan, bisa diukur maju mundurnya suatu negara. Sebuah negara akan tumbuh pesat dan maju dalam segenap kehidupan jika ditopang oleh pendidikan yang berkualitas.[3] Dengan demikian, signifikansi pendidikan juga menjadi perhatian dalam ajaran Islam. Karena Islam menempatkan pendidikan pada posisi yang sangat vital.


[1] QS. an-Nahl, ayat 78.
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2010), hlm. 307.
[3] As’aril Muhajir, Ilmu Pendidikan Perspektif Kontekstual  (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 4.

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RENUNGAN MULTIKULTURALISME

RENUNGAN MULTIKULTURALISME Oleh: Ahmad Suhendra
Kerberagaman merupakan hal yang niscaya bagi kehidupan manusia dimana pun berada. karena pada setiap “diri-kepala” individu seseorang dilatarbelakangi dengan bermacam-macam unsur yang membentu sistem kehidupan dirinya. Dan dari bermacam-macam unsur yang membentuknya itu pada individu masing-masing seseorng tentunya berbeda dengan individu yang lainnya.dari kondisi tersebut melahirkan suatu tatanan subsistem pandangan yang berbeda, yang akhirnya melahirkan sistem kebudayaan yang berbeda dan beragam. Tentunya tidak hanya dalam kontek kebudayaan, tetapi dalam beberapa wilayah, semisal agama, bahasa, etnis, suku, dan sebagainya. Dengan demikian keberagaman merupakan keniscayaan yang tidak dapat terelakkan dan tidak dapat dihindarkan.

Belajar Menjaga Amanah

Saat punya anak kita perlu banyak menyesuaikan diri. Kita harus pintar membagi waktu untuk buah hati. Yah, sebagai suami tak ada masalah meringankan beban istri. Hanya dengan membantu pekerjaan istri tidak akan menurunkan derajat seorang laki-laki.

BIOGRAFI ULAMA: ULAMA YANG CENDEKIAWAN DARI GARUT

BIOGRAFI ULAMA
KH. ANWAR MUSADDAD, GARUT

Seorang ulama-intelektual yang berdedikasi untuk pengembangan lembaga ilmiah, namun tetap berdiri di atas tradisi pesantren. Keahliannya dalam Ilmu Perbandingan Agama tergolong langka di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) pada masanya.  

Lahir di Garut pada 3 April 1909, menempuh pendidikan di HIS (Hollandsche Indische School, setingkat SD pada zaman Belanda), MULO (setingkat SMP) Kristelijk di Garut, dan AMS (setingkat SMA) Kristelijk di Sukabumi. Setelah menamatkan pendidikan menengah di sekolah Katolik tersebut, ia belajar di Pesantren Darussalam Wanaraja, Garut selama dua tahun, kemudian pada 1930 melanjutkan studi ke Mekah dan belajar di Madrasah al-Falah selama sebelas tahun.